Home arrow Overseas arrow A balad o' Arema in America

A balad o' Arema in America PDF  | Print |  E-mail
Friday, 01 February 2008
   
Image Alarm cellphone (handphone.red)bernyanyi lumayan kencang. Begitu membuka mata, hal pertama yang saya lakukan adalah melenyapkan bunyi tersebut. Setelah itu baru memberi waktu bagi jiwa raga ini agar segera bergabung dengan alam, secara otomatis dan gratis.

Beberapa saat berlalu, setelah mandi dengan air hangat dan berpakaian, saya gamit jaket kulit dengan tangan kiri. Udara di luar ternyata lumayan dingin, kalau tidak salah di layar gelas tertera 27*F atau sekitar -2,777 *C. Cukup menjadi alasan mengapa orang sebaiknya memakai baju yang mampu menghangatkan tubuh mereka.

Sambil berjalan menghampiri kotak surat kabar (maklum, di negara Paman Sam ini hampir tidak ada penjual asongan/ surat kabar, kecuali di beberapa tempat tertentu di mana letaknya sudah minggir alias pedesaan dan dihuni warga pendatang, contohnya; Amerika Latin) pandangan saya tertuju pada berita utama buletin harian gratis  "express".

ImageDi situ terpampang jelas foto yang memenuhi halaman pertama buletin tersebut. Wajah orang yang sangat saya kenal. Di bawah foto yang terpampang, tertulis "Ex-Indonesian Dictator Suharto Dies". Tanpa sadar, tanpa berfikir panjang tentang apapun berita yang tertulis di koran, saya langsung mengucap Innalilahi wa ina lillahi roji'un.

Sambil tetap berusaha membaca kalimat demi kalimat dalam berita tersebut, saya berjalan menuju tempat cuci langganan milik orang berkebangsaan Korea. Untuk selanjutnya,  pergi ke tempat biro jasa "money gram" pengiriman uang, hal terakhir yang menjadi kewajiban setiap bulan, seperti halnya kebanyakan perantau di negeri seberang.

Kini, ada dua hal yang telah mengisi pikiran saya sepagi ini, orang-orang yang paling kucinta dalam hidup ini dan meninggalnya mantan presiden Soeharto. Tentang orang-orang tercinta, saya menaruh harapan segera mewujudkan sebuah rumah impian yang akan saya tempati bersama mereka di bumi Arema nantinya.

Sedangkan tentang meninggalnya Pak Harto, saya tak punya harapan lebih selain siapapun pimpinan negeri Indonesia tercinta, akan bisa mewujudkan mimpi kemakmuran bagi seluruh warganya di manapun dia berada. Sejenak alam pikiran saya terbang jauh beberapa tahun ke belakang, seperti kaleidiskop mini, menapak kilas balik kepemimpinan Soeharto lengkap dengan segala peristiwa yang mengantarkan dia hingga lengser keprabon dari kursi kepresidenan.

Namun, tiba-tiba tubuh ini sedikit bergetar. Bukan karena apa-apa, tapi karena hawa dingin yang sudah menjadi  ciri khas negara empat musim ini, mulai menyergap.

Sembari menoleh ke halaman KBRI, di mana bendera negara RI dikibarkan setengah tiang, hati saya mengucap sebait harap kepada Tuhan. "Ya Allah apapun yang terjadi di negeriku kemarin dan hari ini, berilah kami kesempatan dan kemampuan agar bisa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya, amin !"

Cahyo Maulanni dari Washington DC, USA
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev