Home arrow Catatan Pinggir arrow Maaf, Saya Telah Membunuh Suami Anda

Maaf, Saya Telah Membunuh Suami Anda PDF  | Print |  E-mail
Monday, 28 January 2008

Image
Suci Gulangsari
Soeharto was dead ! Kata maaf dipersoalkan. Saya jadi teringat kata-kata bijak seorang sahabat, William A Word, friendship flourishes at the fountain of forgiveness, yang menggambarkan kata maaf dalam sebuah jalinan antar dua manusia yang dilandasi dengan keikhlasan hati. Jika ikhlas dalam persahabatan, maka kata maaf bukanlah sesuatu yang sukar.


Memang sangat mudah, malah terlalu mudah mengucapkan maaf. Tapi, bagaimana dengan makna keikhlasan dibalik kata maaf itu?  Karena keikhlasan itu nisbi, tidak kasat mata, tak bisa dihitung dengan rumus fisika. Baik yang meminta maaf maupun yang menerima maaf. Karena sifat dasar manusia itu sebenarnya sama, sulit untuk mengakui kesalahan diri, dan sulit untuk menerima akibat dari kesalahan yang dilakukan orang lain.

Pernah suatu ketika saya melihat tayangan televisi, seorang guru ngaji-dengan alasan terdesak hutang, stress menggarong dan membunuh, apakah kata maaf itu masih cukup diucapkan untuk keluarga korban? "Maaf, saya telah membunuh suami Anda!"

Seberapa kata memaafkan yang diharap? Sepanjang hidup keluarga korban yang telah dihilangkan sandang pangannya, tiang hidupnya, lentera hatinya? Mampukah kata maaf mengembalikan layar keikhlasan yang telah terkoyak? Bahkan mengembalikan harta garonganpun (bisa jadi) tak akan bisa mengobati luka hati yang telah menganga, membusuk, bernanah, karena lama tak terobati. Pun juga permintaan maaf seorang presiden, belum tentu bisa melahirkan empati.  

Saya jadi teringat obrolan dua tukang ojek yang kebetulan sama-sama melihat tayangan nonstop televisi tentang kematian Soeharto di sebuah warung kecil tempat saya tinggal. "Pak SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) njaluk masyarakat nyepuro  kabeh salahe Pak Harto. Yo pantes, soale dek'e gak tau melok soro goro-goro Pak Harto. Enak ae ngomong disepuro. Sepuro se gampang, tapi duwite iku lho balekno nang negoro kanggo pembangunan".

Artinya:Pak SBY meminta masyarakat memaafkan semua kesalahan Soeharto. Pantas saja, soalnya dia tidak pernah merasakan sengsara akibat ulah Pak Harto. Enak saja bilang maaf. Maaf sih gampang, tapi uangnya negara itu harus dikembalikan untuk pembangunan.

Yang lebih menggelikan, tukang ojek satunya langsung njawab. "Lha opo-opoan SBY njalukno sepuro Pak Harto. Lha Pak Harto iku bapakne ta? Terus salahe pak Harto iku opo .. Lha SBY weruh Pak Harto salah teko endi? Nek ngerti salah kok dijarno ae ...

 

Artinya:Lha kenapa SBY minta maaf. Apa Pak Harto itu bapaknya. Terus salahnya Pak Harto itu apa? Pak SBY tau Pak Harto salah dari mana, kan belum pernah diadili? Terus kalau tahu Pak Harto salah, kenapa waktu hidup kok dibiarkan saja?


Obrolan singkat, tapi dalam. Maknanya, kembali kepada keikhlasan hati, menimbang, mengingat, tak selalu kata maaf itu terucap karena tanggungjawab moral kepada kepentingan yang lebih besar, tapi terkadang hanya karena ikatan emosi, sejarah, ewuh pakewuh dan tentu keikhlasan hati yang hanya bisa dirasakan oleh seorang sahabat sejati (baca:kroni). Dan semuanya hanya bisa terjawab ketika penegakan keadilan dan kejujuran telah menjadi mata hati dalam setiap melihat persoalan di negeri kita tercinta ini.  Semoga.
   

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >