Home arrow News arrow Indonesia arrow Greenpeace Gagalkan Pengapalan Minyak Sawit

Greenpeace Gagalkan Pengapalan Minyak Sawit PDF  | Print |  E-mail
Saturday, 15 November 2008
Aktivis Greenpeace untuk kesekian kalinya mencegah pengapalan minyak sawit di sebuah kapal tanker bertujuan Rotterdam di Dumai Sumatra, pelabuhan minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia. Aktifis lingkungan hidup itu juga menyerukan kepada Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)(1) yang akan bertemu di Bali minggu depan untuk segera mengambil tindakan terhadap anggotanya yang merusak hutan dan lahan gambut.


Seorang aktivis lainnya menguncikan dirinya ke rantai jangkar kapal Isola Corallo guna mencegahnya merapat ke pelabuhan, hari Rabu malam sesaat setelah kapal tanker itu tiba di perairan pelabuhan Dumai.

Minyak kelapa sawit yang akan dimuat oleh Isola Corallo adalah milik kelompok Sinar Mas, perusahaan industri kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan produksi 10% dari produksi nasional. Sinar Mas adalah anggota kunci RSPO, organisasi yang kemarin baru merayakan pengapalan pertama ke Eropa "minyak kelapa sawit ramah lingkungan". Kendati demikian, penelitian Greenpeace menunjukkan bahwa RSPO tidak lebih dari sekedar tameng agar perusahaan terlihat ramah lingkungan.

Perusahaan yang menerima sertifikasi RSPO – United Plantations, salah satu pemasok Nestlé dan Unilever – terlibat kegiatan deforestasi di lahan gambut Kalimantan yang rentan. Sinar Mas juga terlibat kegiatan deforestasi di tempat lain di Indonesia, termasuk Kalimantan dan Papua dan mempunyai rencana-rencana perluasan perkebunan yang agresif.

"Para pembeli minyak kelapa sawit harus membatalkan kontrak mereka dengan pemasok yang terus menerus melakukan pengrusakan hutan dan pembukaan lahan gambut.  Penghentian sementara (moratorium) semua kegiatan pembukaan hutan dan lahan gambut merupakan prasyarat sebelum mengklaim diproduksinya minyak kelapa sawit 'ramah lingkungan," kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Greenpeace Asia Tenggara, "Minggu depan pelaku-pelaku industri kelapa sawit dunia akan bertemu di Bali dalam pertemuan RSPO keenam. Kami mengharapkan pertemuan ini mengambil tindakan segera guna mencegah perusahaan-perusahaan seperti Sinar Mas dan United Plantations yang merusak hutan dan lahan gambut mengkalim telah memproduksi minyak kelapa sawit yang ramah lingkungan."

Sertifikasi RSPO menuntut pematuhan dan penaatan ketentuan-ketentuan dan standar pada tingkat perkebunan sebelum diberikannya sertifikat. , Namun deretan ketentuan dan standar ini tidak sepenuhnya melarang pembukaan hutan, bahkan di atas lahan gambut, yang merupakan langkah kunci dalam perang melawan perubahan iklim. Terutama karena pembukaan lahan, pengeringan dan pembakaran hutan-hutan gambut ini telah menempatkan Indonesia sebagai pengemisi gas rumah kaca ketiga terbesar di dunia (2). Kenyataannya, anggota-anggota RSPO tidak diwajibkan mengubah perilaku kerjanya, sampai mereka memasuki proses sertifikasi.

"Dengan laju pembabatan dan pembakaran hutan saat ini, hutan dataran rendah Indonesia  sebagian besar akan hilang dalam waktu 15 tahun mendatang (3), standar RSPO tidak memadai, dan dalam kerangka kerjanya yang sekarang RSPO tidak akan memecahkan masalah deforestasi di Asia Tenggara. Industri bersama dengan Pemerintah harus mengambil tindakan segera untuk melindungi hutan kita," tambah Bustar.

Greenpeace menyerukan Pemerintah Indonesia untuk secepatnya melaksanakan jeda tebang terhadap semua bentuk konversi hutan, termasuk perluasan perkebunan kelapa sawit, industri penebangan dan bentuk-bentuk pendorong deforestasi lainnya.
Greenpeace adalah organisasi kampanye global yang independen yang bertindak untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat guna melindungi dan melestarikan lingkungan hidup serta mengusung perdamaian.

 

Sumber:tambangnews.com

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Next >