Home arrow Kisah arrow Pengakuan Aktifis Partai

Pengakuan Aktifis Partai PDF  | Print |  E-mail
Sunday, 19 October 2008

Image

Aku Dewi (nama samaran), mantan aktifis partai besar di sebuah daerah yang kini mulai berkembang (maaf saya enggak bisa menyebutkan daerahnya). Aku ingin kisah yang aku tuturkan ini menjadi cermin dan pelajaran bagi siapa saja perempuan agar hati-hati dalam melangkah, jangan pernah bermain api dalam hal cinta. Kedewasaan dan jabatan seorang pria bukan jaminan kebahagiaan, yang ada malah petaka, penderitaan , dan ‘penghinaan’ seumur hidup.

Aku bukan penyanyi dangdut yang mencari makan dari panggung kampanye satu ke panggung kampanye yang lain. Aku juga bukan ‘ayam kampus’ yang melayani anggota dewan berdasarkan order. Aku ini dulunya seorang pengurus partai di daerah dengan jabatan yang lumayan ‘mentereng’, yakni sekretaris DPC.

 

Aku cantik, pintar, energik, dan seksi, begitulah kata mereka. Bahkan, ada yang secara guyonan memanggilku dengan sebutan ‘jangan bayem’ (sayur bayam) karena aku diibaratkan penyegar diantara mereka.


Tapi apapun sebutan mereka, kini aku tak perduli. Yang aku ingin perduli adalah bagaimana kelanjutan hidup dan nasib anakku yang kini telah berumur tiga tahun. Suamiku yang sekarang, jelas bukan ayah biologis Anna (sebut saja begitu) anakku itu. Ayah biologis Anna yang sesungguhnya, kini telah ‘duduk manis’ sebagai salah satu pejabat teras di daerahku.


Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa merenungi nasib. Aku menyadari inilah buah dari dosa masalalu yang tak mungkin aku hapus begitu saja dari hidupku. Dia terus menguntitku, mengingatkan aku, menyadarkan aku secara nyata melalui Anna. Bocah polos itu seringkali kudekap, kuhujani wajahnya dengan airmata setiap kali aku mengingat betapa aku telah membuat hidupnya menjadi artifak masa dulu.


Sebenarnya, aku sangat ingin jujur kepada suamiku, lantaran perasaan bersalah itu terus menderaku. Aku juga telah berbuat dosa karena sudah membohonginya, hampir lima tahun lamanya. Dengan segala risiko yang siap kutanggung, aku ingin mengatakan bila Anna sebenarnya bukan anaknya, tapi anak Tony (bukan nama sebenarnya), seseorang yang memenangi Pilkada dan kini menduduki jabatan penting di daerahku.


Tapi cukup adilkah ini untuk suamiku? Bagaimana jika aku salah bersikap? Bagaimana bila dia malah semakin terluka, bagaimana dengan Anna? Saat ini, Anna sangat dekat dengan ‘ayah bohongan’nya itu. Tapi di sisi lain, dia seorang anak perempuan yang harus mengetahui bahwa ayah kandung yang sebenarnya guna kepentingannya kelak bila memasuki masa pernikahan dan dewasa.


Duh, ini semua gara-gara keimanku yang rapuh di masa lalu. Beberapa tahun lalu, hampir bersamaan dengan perkenalanku dengan suamiku, aku telah berteman dengan Tony. Maklum dia adalah salah seorang ‘pejabat tinggi’ partai yang menjadi wadah kegiatan politikku. Seringkali terlibat dalam kegiatan partai membuat hubungan kami menjadi sangat akrab, bahkan bukan hanya akrab di kantor DPC, tapi lambat laun kami juga akrab di atas ranjang. Padahal saat itu Tony sudah berstatus suami orang, sementara aku sendiri sudah memiliki tunangan.


Berdalih melakukan konsolidasi, kami sering ke luar kota. Memang sih perginya secara berombongan, tapi ujung-ujungnya selalu kami mojok berdua di penghujung malam, menikmati kebersamaan kami dengan luapan birahi yang tak terkendali. Bahkan, saat-saat terakhir menghadapi Pilkada, dia juga masih sering ‘mengunjungi’ aku. Tidak lagi berombongan, tapi lebih sering sendiri, mengajakku jauh-jauh pergi agar affair kami tidak tercium siapapun. Meski harus kuakui hampir 80 persen aktifis partai-ku tahu tentang hubungan istimewa kami.


Hingga suatu hari, saking tak bisa mengendalikan diri, aku lupa ‘pengaman’ yang biasa kami gunakan. Dan bisa ditebak, sebulan kemudian aku telat menstruasi. Ketika aku hubungi untuk memberitahu ‘petaka’ itu, awalnya Tony masih bersikap baik-baik saja dan mengatakan agar aku tenang dan tidak panik. Dia bahkan sempat mengatakan akan segera menemui aku.


Namun kali kedua kuhubungi, dia seperti orang kesetanan dan mengata-ngatai aku dengan kata-kata yang sangat kasar. Bahkan … (maaf) dia mengatai aku pelacur juga menuduh aku sudah tidak perawan ketika pertama kali berhubungan dengan dia. Setelah itu, dia menutup telepon, dan tak pernah bisa kuhubungi lagi. Jadwal kampanye yang padat dan hari H Pilkada yang semakin dekat membuat dia benar-benar lupa pada ‘kejadian kecil’ itu.


Panik, marah, bingung, membuat aku sempat berfikir aborsi atau kalau perlu bunuh diri. Namun entah darimana aku tiba-tiba punya ide gila untuk ‘memperalat’ tunanganku, seorang guru yang lumayan polos dan ‘suci’.


Aku minta dia menjemputku ke rumah dengan motornya dan mengajaknya jalan-jalan lantaran aku suntuk oleh persoalan partai. Dia menuruti, dan mengajakku refreshing ke sebuah tempat yang sejuk, jauh dari kota. Sepanjang jalan aku memang sengaja ‘menggodanya’ dengan sentuhan-sentuhan kecil yang aku yakini bisa membakar naluri kelakiannya.


Benar juga. Akhirnya, dia tak lagi konsentrasi lagi menikmati keindahan pemandangan, dia lebih sibuk dengan aku dan mengarahkan perjalanan kami ke sebuah vila kecil. Di situlah kami melepaskan dan menumpahkan segalanya.


Skenario awalku berhasil. Tunanganku itu tampak sangat sedih dan terpukul dengan yang telah dilakukannya terhadapku. Saking, kaget dan perasaan bersalah yang berlebihan, dia bahkan melupakan satu hal penting, yakni tak lagi ada darah perawan pada ‘malam pertama’ kami.


Begitulah akhirnya, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tunanganku itu langsung melamarku, kami menikah, dan jadilah dia suami yang sangat baik untukku. Selain sangat baik dan pengertian, dia juga mampu menjadi ayah yang sempurna bagi Anna. Menyayanginya dengan sepenuh hati.


Tapi justru itulah yang membuatku semakin tersiksa. Semua pengertian, kebaikan dan kasih sayang suamiku membuat aku semakin merasa bersalah dan berdosa. Ketertarikanku untuk menekuni kehidupan religius, membuat hatiku semakin terluka, menyadari dan terus menderita dengan pergulatan batin atas semua perbuatan nista yang pernah kulakukan. Aku bingung, tak tahu harus bagaimana, haruskah jujur, terus berbohong, ataukah menuntut hak-hak anakku kepada ayah biologisnya yakni Tony yang kini hidup serba berkecukupan dan telah menjadi ‘orang penting’?


Seperti dituturkan Dewi kepada This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

Comments
Add New Search
Arie   |125.167.98.xxx |2008-10-20 14:19:28
mbak hidup cmn 2 aja mbak,tp 1 yg ngk bisa di lupakan,tanggung jawab.
pepatah
bilang,berakit ke hulu,berenang ketepian.atau sebaliknya.artinya past dah ngrti
kok.....
ARUM   |222.124.1.xxx |2008-11-04 14:37:26
Nasi sudah menjadi bubur, tak perlu menuntut apa- apa dari ayah
biologisnya.Yakinlah suatu saat dia yang akan datang menemui mba.

Dan tidak
ada salahnya mba berterus terang dengan suami mba, kalo dia mempunyai cinta &
hati yang tulus, pasti dia akan bisa menerima mba apa adanya.

Mohon ampunlah
pada Yang Maha Kuasa, agar mba lebih tenang menjalani hidup ini. Dekatkan diri
dengan Sang Pencipta, hanya DIA lah yang dapat mengampuni dosa umat manusia
secara tuntas.
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >