| Penantian ‘ABG’ Minarti | | Print | |
| Sunday, 19 October 2008 | |||||||
Perempuan mana yang berharap akan menjadi korban kebiadaban nafsu laki-laki? Pun juga aku, Minarti, yang berasal dari sebuah dusun kecil di Kota Blitar Jawa Timur. Tak pernah sedikitpun aku membayangkan bila dalam usiaku yang masih sangat belia, kini 19 tahun, akan menjadi korban kebohongan cinta laki-laki bernama Donny, anak majikan tempat aku bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Surabaya.
Bukan hanya tubuh yang telah kukorbankan, aku juga telah merelakan perasaan sakit dan penghinaan ini terus tumbuh menjadi bagian terdekat dalam hidupku, hingga cucuran penderitaan, marah, dan dendam bukan lagi menjadi pemanis hidup ini, tapi telah menjadi nafas yang setiap saat kuhembuskan lalu kuhirup kembali.
Meski PRT, aku bukanlah gadis naïf, polos, lugu, dan tidak berpendidikan sama sekali. Aku menjadi PRT karena sangat, sangat terpaksa. Karena desakan ekonomi dan nasib yang tak bisa lagi diajak kompromi. Petaka ini dimulai ketika aku masih kelas dua SMEA, tiga tahun yang lalu. Ayahku yang kerja serabutan, sebagai calo tanah dan rumah, tiba-tiba sakit dan meninggal. Disusul kemudian ibuku yang menjadi guru bantu sebuah SDN dikeluarkan karena dianggap sering melakukan tindakan indispliner, sering meninggalkan tugas karena lebih memilih menjadi tenaga serabutan di tempat-tempat kondangan sebagai jurumasak. Belum lagi genap 40 hari sejak kematian ayah dan dikeluarkannya ibu sebagai tenaga honorer, adik laki-lakiku (kami dua bersaudara) satu-satunya mati juga, karena tenggelam dan hanyut di sungai saat bermain dengan teman-temannya. Lengkaplah sudah kepedihan ini. Dalam kondisi ekonomi keluarga yang morat-marit dan keadaan ibu yang pontang-panting mencari sesuap nasi untuk kelangsungan hidup kami, akhirnya kuputuskan untuk berhenti sekolah. Bukan keputusan yang mudah, aku bahkan harus menebusnya dengan cucuran airmata sehari semalam. Ibu tak bisa mencegahku, toh nyatanya kami memang tidak lagi punya sepeser uang. Jangankan untuk sekolah, makanpun susah. Untunglah tak berapa lama kemudian, ibu diterima kerja sebagai PRT di sebuah keluarga kaya di kampungku. Sedangkan aku, dengan izin ibu, mencoba keberuntungan di Kota Surabaya setelah mendapatkan tawaran kerja sebagai PRT juga dari tetangga yang lebih dulu ‘sukses’ menjadi PRT di sana. Inilah episode baru hidupku. Singkat kata, aku diterima dengan sangat baik oleh keluarga salah satu jajaran Direksi BUMN di Jawa Timur. Bahkan, karena tidak memiliki anak perempuan, dan hanya memiliki seorang anak laki-laki yang baru saja kuliah semester satu, kedua majikanku menganggapku sebagai anak sendiri. Selain dikursuskan menjahit, aku juga bebas menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di rumah itu. Tapi aku bukanlah anak yang tak tahu diri. Meski mendapatkan semua fasilitas, namun aku tak pernah menggunakannya. Aku tetaplah seorang PRT yang harus senantiasa melaksanakan tugas sesuai porsinya. Hingga suatu kali, ketika kedua majikanku pergi untuk suatu urusan di luar kota selama beberapa hari, terjadi satu peristiwa yang sama sekali tak kuduga. Donny yang kamarnya berada di lantai dua, tiba-tiba memanggilku. Sesuatu yang di luar kebiasaan. Pasalnya, selama ini Donny lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah bersama teman-teman kuliahnya. Kalaupun di rumah, dia pasti lebih banyak di kamarnya bermain internetan selama berjam-jam. Dia hanya turun dari kamarnya kalau mengambil makanan. Setelah itu, dia akan kembali lagi ke kamar, tenggelam dalam keasyikannya di dunia maya. Kalaupun sekarang tiba-tiba memanggilku, pasti ada yang sangat penting. Kubuang jauh perasaan curiga yang sempat menyelinap. Tak mungkin anak baik-baik dan berperilaku sopan seperti Donny akan berbuat macam-macam. Karena itu, aku pun melangkah menaiki tangga ke kamarnya. Donny menoleh sejenak dan mengajakku agar masuk ke kamarnya yang terbuka. Dengan santai layaknya seorang teman, Donny memintaku agar duduk di sampingnya, di atas tempat tidurnya, sambil bermain laptop. Dia bercerita banyak soal internet, cara membuat e-mail, juga mengajariku chatting agar bisa mendapatkan teman banyak katanya. Akupun mulai percaya. Dan tak terasa, waktu semakin larut ketika tiba-tiba mataku terasa berat dan ngantuk. Tak sengaja akupun tertidur di depan laptop Donny. Aku baru tersentak bangun ketika tiba-tiba kurasakan ada yang mengendus, meremas-remas dan menelusuri tubuhku. Sontak aku mencoba berontak dan teriak, namun cengkeraman Donny di mulut dan lenganku ternyata tak bisa kulepaskan. Begitu cepat semuanya terjadi. Hingga aku terpuruk dan benar-benar tak bisa menerima semua ini. Keperawanan yang kujaga, hilang dalam waktu dan tempat yang takkukehendaki. Aku tak bisa berkata-kata apa-apa lagi dan hanya bisa menangis di tempat itu. Bak seorang pahlawan, Donny mendekapku dan mencoba menenangkan aku. Bahkan dia berkata akan mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan satu syarat aku harus pulang kampung.
Setelah kejadian itu, aku tak berani lagi keluar kamar. Donny pun nampaknya tak ingin mengusikku untuk kedua kali. Hingga akhirnya kedua majikanku datang dan aku mengutarakan niatan untuk pulang kampung karena ibu sakit dan membutuhkan perawatanku. Meski agak terkejut dan keberatan, namun majikanku, tanpa rasa curiga sedikitpun mengizinkan aku. Mereka malah terlihat bangga dan haru ketika Donny tiba-tiba saja menawarkan jasa untuk mengantarkan aku ke Blitar karena kebetulan ada acara dengan teman-temannya di Malang selama beberapa malam. Singkat kata, sampailah kami di Blitar. Sungguh di luar dugaan ketika dengan sangat simpatik, tiba-tiba saja Dony mengungkapkan niatannya untuk nikah sirih denganku saat itu juga, di depan ibuku. Dia ingin menikah sirih dulu karena usianya yang masih muda dan perlu waktu untuk meyakinkan orangtuanya. Seperti tak percaya dengan pendengaranku sendiri, dan ditunjang oleh kondisi fisikku-yang tidak perawan lagi, aku justru merasa tersanjung dengan sikap Dony yang semula kuanggap gentle itu. Hingga akhirnya akupun setuju untuk menikah sirih dengannya. Begitulah, akhirnya aku pun jadi istri Dony, anak orang kaya itu. Cukupkah sampai di situ? Ternyata tidak. Aku tidak tahu apa yang ada dalam rencana licik Dony … seminggu sekali, dia masih rutin mengunjungi aku di Blitar untuk sekedar bercumbu dan melepaskan hasratnya. Setelah itu, dua minggu sekali, sebulan sekali, dua bulan, dan malah sekarang sudah hampir setengah tahun sudah dia tak menetapi janjinya sebagai suami. Ironisnya, dia menghilang bak di telan bumi justru di saat aku mengandung benihnya di rahimku. Pupuslah sudah harapanku ketika aku mencoba menelepon ke rumahnya di Surabaya, yang mengangkat adalah orang lain yang mengatakan bahwa keluarga Dony sudah dipindahtugaskan entah ke mana. Karena rumah besar itu ternyata hanya rumah dinas. Aku tak tahu harus bagaimana, aku berharap bila suatu saat Dony akan membaca tulisan ini dan terketuk hatinya … Di manapun dia berada. Semoga …
Dikisahkan Minarti kepada This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Prev | Next > |
|---|








Perempuan mana yang berharap akan menjadi korban kebiadaban nafsu laki-laki? Pun juga aku, Minarti, yang berasal dari sebuah dusun kecil di Kota Blitar Jawa Timur. Tak pernah sedikitpun aku membayangkan bila dalam usiaku yang masih sangat belia, kini 19 tahun, akan menjadi korban kebohongan cinta laki-laki bernama Donny, anak majikan tempat aku bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Surabaya.







