| Cerita Istri ke Dua | | Print | |
| Wednesday, 23 January 2008 | |
Saya adalah seorang isteri sekaligus ibu dari seorang putra yang berusia 2 tahun. Saya adalah isteri kedua. Alhamdulillah hubungan kami bertiga baik-baik saja, perasaan cemburu dan lain-lain adalah hal yang biasa dalam rumah tangga kami.
Suami saya juga telah berusaha keras untuk berlaku adil terhadap isteri-isterinya. Kami tinggal di kota yang berbeda. perlu ibu ketahui bahwa sebelumnya saya tidak pernah kenal dengan suami saya. Saya dikenalkan oleh seorang ustadz. Pada waktu itu saya diberitahukan bahwa ada seorang pria sholeh yang ingin menikah lagi dan istrinya sudah mengizinkan karena dia memiliki alasan syar'i untuk menikah lagi. Di antara beliau dan isterinya tidak ada yang namanya pertengkaran. dia sudah lama mencari isteri tapi semuanya menolak. Sampailah mereka kepada saya, sambil seolah-olah mengatakan adakah perempuan muslimah yang bersedia menjadi solusi atas permasalahan mereka. Setelah istikharah yang panjang saya pun mendapatkan ketetapan hati untuk menerimanya. namun orang tua pada waktu itu marah besar, tapi akhirnya luluh juga hatinya setelah dijelaskan. Akhirnya kamipun menikah dengan sangat sederhana. Tapi tiga bulan kemudian, keluarga besar isteri pertamanya mengetahui hal itu, mereka mendesak istri pertamanya sebut saja Teh Mia untuk menuntut cerai. Teh Mia yang pada awalnya merestui akhirnya terpengaruh juga dan menuntut cerai di pengadilan. Keluarganya menuduh saya sebagai perempuan pengganggu rumah tangga orang, padahal kenalpun tidak dan saya punya kehidupan dan aktifitas sendiri. suami saya tidak mau menceraikan Teh Mia. Saat itu saya sedih melihat kegalauan di wajah suami saya, sayapun berkata pada suami saya bahwa saya rela jika harus diceraikan. Akhirnya di hadapan keluarganya saya pun diceraikan meskipun itu hal yangsangat berat bagi suami saya, Sedih rasanya hati ini... Saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menangis dalam sholat malamku yang panjang... Tapi saya ikhlas, toh niat awalku menikah adalah untuk mendapat ridho Allah, kalaupun harus berpisah itu adalah takdir Allah... Sungguh Allah Maha Adil, ternyata saya hamil, dan suamikupun rujuk kembali kepadaku sepengetahuan Teh Mia, tapi tidak sepengetahuan keluarga besarnya, karena kelurga besarnya mengancam akan menuntut suami saya jika menikah lagi. Sampai sekarang keadaan kami seperti ini. Entah apa yang akan terjadi nanti hanya Allah yang tahu. Sekarang ini perasaan sayang saya terhadap suami semakin besar. Saya sering dihantui perasaan deg-degan jikasaat itu tiba, saya harus berpisah dari suami saya... Tapi saya selalu berusaha untuk manguatkan hati ini untuk senantiasa ikhlas dan rela terhadap apapun ketetapan Allah...
Meriza |
| < Prev |
|---|







Saya adalah seorang isteri sekaligus ibu dari seorang putra yang berusia 2 tahun. Saya adalah isteri kedua. Alhamdulillah hubungan kami bertiga baik-baik saja, perasaan cemburu dan lain-lain adalah hal yang biasa dalam rumah tangga kami.
Suami saya juga telah berusaha keras untuk berlaku adil terhadap isteri-isterinya. Kami tinggal di kota yang berbeda. perlu ibu ketahui bahwa sebelumnya saya tidak pernah kenal dengan suami saya. Saya dikenalkan oleh seorang ustadz. 






