Home arrow News arrow Indonesia arrow Dilecehkan, BMI Hongkong Surati SBY

Dilecehkan, BMI Hongkong Surati SBY PDF  | Print |  E-mail
Friday, 03 October 2008
Image
Buruh Migran Indonesia, nasibmu kini
Di tengah-tengah meriahnya perayaan hari raya Idul Fitri di Lapangan Victoria Park di Hongkong, Buruh Migran Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Migrant Workers Union atau IMWU, melayangkan surat protes kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono [SBY].

Seperti dirilis Wereldomroep, protes ini terkait dengan tindak kekerasan dan pelecehan terhadap sejumlah buruh migran ketika berlangsungnya pertemuan memperingati hari kemerdekaan RI yang diselenggaran Konsulat Jendral RI di Hong Kong. Ketua IMWU, Rusemi menagatakan IMWU telah mengirimkan surat ke SBY pada Minggu  [5/10].

Surat itu yang langsung dikirim ke Presiden itu terkait peristiwa Elizabeth, yang menjadi korban tindak kriminal oleh pihak keamanan KJRI. "Tidak melalui KJRI. Kita kirim langsung. Kalau melalui KJRI takut nggak nyampai" kata Rusemi.

Ditambahkan Rusemi, kalau mereka ke KJRI sendiri, KJRI nggak mau dengar. "Jadi kalau ke presiden kita berharap, menekan KJRI untuk minta maaf  ke kita sesuai dengan tuntutan yang ada di press release kita" tandasnya.

Peristiwa itu sendiri, sebenarnya sudah terjadi tanggal 7 September 2008 lalu. Saat itu, KJRI merayakan Indepence Day di suatu gedung yang namanya Queen Elizabeth Stadium. "Kita dari IMWU itu memang sudah berencana aksi. Kita masuk sepuluh orang pakai tiket resmi. Jadi kalau kabar menyelundup itu nggak benar. Sehabis itu di dalam kita menunggu Erman Suparno (Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, red)  berkata-kata sedikit atau banyak tentang buruh migran di Hongkong. Tapi nggak ada ceritanya, malah nyanyi. Sehabis itu kita bentangkan banner yang isinya tuntutan kita, yaitu blacklist agen dan majikan pelanggar hukum. Bubarkan terminal 3 dan 4, terus stop underpayment, di antaranya itu," papar Rusemi tentang kilas balik kejadian.

"Jadi polisinya itu marah-marah. Kita sudah rencana dari semula. Kalau diusir, kita keluar baik-baik. Tapi mereka nggak mau. Mereka langsung begitu bentangkan banner, tarik-tarik doang. Dan sampai ada yang terluka. Ada juga yang mau ditarik dari tempat duduk atas, ditarik lehernya sampai seperti kecekik. Waktu itu kan puasa, jadi nggak bisa nafas, hampir pingsan dia. Habis itu ada yang disekap. Terus ada pelecehan seksualnya. Maksudnya dipeluk, nggak tahu sengaja atau tidak. Tapi temanku merasakan dipegang buah dadanya. Terus kepalanya dibenturin ke pintu kaca, untuk membuka pintu kaca itu. Jadi kita menuntut permintaan maaf melalui media negara terbuka ke IMWU, terutama teman-teman yang mengalaminya" tambah Rusemi.

Atas peristiwa tersebut, sampai sejauh ini tidak ada permintaan maaf. "Waktu itu kan kita mau mereka minta maaf di atas panggung. Tapi mereka menolak. Oke kalau mereka menolak, minta maaf di depan masa demo. Waktu itu juga nggak mau. Sampai kita hari itu juga, kita bikin statement ke berbagai media. Kita hari itu juga press conference. Jadi kita menghubungi Franky (Franky Sahilatua, red) selaku duta buruh migran untuk berbicara atas nama kita," tuturnya.
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >