Home arrow News arrow Indonesia arrow H Syaikon : Juragan Kulit Sapi

H Syaikon : Juragan Kulit Sapi PDF  | Print |  E-mail
Wednesday, 17 September 2008

Image
Kesedihan di depan rumah H Syaikon.Kompas
 

ImageSOSOK H Saikhon, 55, pengusaha pembagi zakat yang berujung pada tewasnya 21 orang, di kalangan masyarakat Kota Pasuruan lebih dikenal sebagai keluarga santri.

Sebab sejak sekitar tujuh tahun lalu, H Saikhon mengisi pengajian di Pondok Pesantren (Ponpes) Suniyah, yang terletak di gang sebelah utara Masjid Jamik Al Anwar Kota Pasuruan. Ia mengajar setiap Rabu malam, menggantikan tugas almarhum Ustadz Yasin bin Hasan yang juga kakak iparnya (kakak dari Hanifah, istri H Saikhon).

“Benar, sejak lama ayah saya mengajar di Ponpes Suniyah setiap Rabu malam Kamis,” kata A Cholid alias Vivin,  putra H Saikhon kepada Surya, Senin (15/9).

Namun beberapa kalangan lainnya lebih mengenal H Saikhon sebagai pedagang kulit hewan (kambing dan sapi) yang diolah dan diekspor ke luar negeri.

Bahkan tidak hanya berdagang kulit hewan. H Saikhon juga terjun dalam usaha jual beli mobil bekas serta usaha sarang burung. Dari beberapa usaha itulah, H Saikhon menjadi keluarga kaya raya. Sebagian uang dari hasil usahanya itulah yang tiap Ramadan dibagikan kepada para fakir miskin.

Sebagai orang kaya di Kota Pasuruan, H Saikhon cukup dikenal khususnya di Kecamatan Purutrejo. Di kawasan itu, tepatnya di Kelurahan Purutrejo Gang Pepaya, H Syaichon dan keluarganya tinggal di sebuah rumah besar dan luas. Rumah bercat hijau dan berpagar tinggi itu terletak di pojok jalan.

Menurut Vivin, sudah sejak lama keluarganya membagikan rezeki dan zakat pada saat Ramadan. Namun sejak tujuh tahun lalu pembagian zakat itu mulai melibatkan ribuan fakir miskin.
Hanya saja untuk pembagian zakat kemarin, ada perbedaan cara pembagian dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

Kata Vivin, tahun lalu zakat dibagikan dengan cara para penerima zakat antre memutar dari gang Rambutan menuju pinggiran selokan sungai di Gang Pepaya dan keluar di Gang Melon kemudian langsung membawa uang yang dibagikan.

Sedangkan dalam pembagian zakat kemarin, para pengantre dikumpulkan pada satu titik di depan musala keluarga, sekitar 25 meter dari rumah H Saikhon. Mengapa caranya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Vivin mengaku keluarganya merasa tidak enak dengan para tetangga yang akan terganggu jika antre zakat dilakukan dengan cara memutar.

“Ramadan tahun lalu, uang yang dibagikan sekitar Rp 75 juta, masing-masing orang mendapatkan Rp 30.000. Untuk tahun ini, pengambilan pertama tadi baru Rp 50 juta, tapi kemudian terjadi musibah yang tidak kami inginkan,” terang Vivin didampingi saudaranya, M Faruk, saat hendak dimintai keterangan di Mapolresta Pasuruan.

Akibat peristiwa yang menewaskan 21 orang tersebut, H Saikhon dan kedua putranya tersebut diamankan di Mapolresta Pasuruan. “Wallahu a'lam, kami pasrah kepada Allah SWT atas musibah yang menimpa ini. Kalau seandainya kami mendapat hukuman dan dipenjara, saya minta kawan-kawan wartawan sudi menengok kami saat Lebaran nanti,” kata Vivin kepada Surya dengan kepala tertunduk.

 
sumber: surya.co.id 
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >