| Kwik:Retorika Pertumbuhan Ekonomi dan BLT Omong Kosong | | Print | |
| Sunday, 07 September 2008 | |
![]() Kwik Kian Gie Menurut mereka, keadaan di lapangan, terutama di daerah, menunjukkan tren positif pertumbuhan ekonomi. Namun, menurut pengamat ekonomi, Kwik Kian Gie, berbagai sanjungan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lebih dari retorika belaka. Di balik angka-angka bagus itu tersimpan cerita kelam. Rakyat sering disesatkan dengan cerita yang berbunga-bunga tentang naiknya Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB). Seperti petikan wawancara yang dilakukan Radio Nederland Wereldomroep (RNW) dengan Kwik Kian Gie (KKG), informasi itu menyesatkan. "Pertama-tama, mereka selalu berbicara tentang PDB atau pertumbuhan domestik bruto. Itu adalah produksi barang dan jasa seluruh Indonesia, tidak perduli yang memproduksi itu bangsa Indonesia atau bangsa asing. Sehingga kalau PDB itu dikurangi dengan produksi yang dilakukan bangsa asing, yang tentunya manfaat terbesar jatuh pada bangsa asing, itu menjadi PNB, Produk Nasional Bruto. Pemerintah dengan tim ekonomi Brockley tidak pernah berbicara menggunakan istilah PNB tetapi PDB. Jadi di dalamnya banyak kandungan asing''. Kedua, PDB tadi bisa ditumbuhkan hanya dengan lima orang atau enam orang saja. Seandainya ada lima investor asing, raksasa sekali, lalu mereka memproduksi. Batu bara dan lain-lain dikeduk. Begitu itu keluar dari perut bumi Indonesia, itu kan namanya produksi bertambah. Jadi, yang mengakibatkan produksi pertambah yang cuma lima enam investor besar itu. Yang menikmati siapa? Ya, mereka! Tapi dengan demikian, itu bukan berarti kualitasnya baik dan ada keadilan. Sebaliknya, dengan dua kali kenaikan harga bensin berturut-turut, 1x126%, yang menderita, yang sengsara luar biasa. Lalu korupsi yang gila-gilaan. Itu PT Lapindo Brantas, mereka melakukan apa semua di Sidoarjo. Sekarang hancur-hancuran, masih demonstrasi terus. Tetapi, yang punya Lapindo Brantas, Abu Rizal Bakrie, masih nangkring sebagai Menkokesra. ''Jadi, saya bicaranya juga begitu terhadap para intelektual, apa quasi-intelektual, atau memang goblok atau apa pikirannya memang sudang terkorup. Saya tidak ngerti itu". Dikatakan Kwik, pemerataan sama sekali tidak ada. ''Itu terkonsentrasi di beberapa gelintir tangan. Misalnya, yang sekarang booming itu kan batu bara. Batu bara itu siapa yang punya? Bumi Resources, Abu Rizal Bakrie, terus kemudian di tangan Edwin Soeryadjaya cs yang namanya PT Adaro. Sekarang kembali pada masalah asing tadi''. Ketiga investor asing memproduksi dia mengatakan PDB tumbuh. Ketika investor asing yang memproduksi diboyong ke luar negeri, dia mengatakan ekspor tumbuh. Nah, itu kan lucu. Ketika disinggung RNW soal kabar yang membingungkan tentang meningkatnya permintaan mobil, walau harga BBM meningkat, terutama di daerah di luar Jawa, Kwik mengatakan sangat gampang menjelaskannya. ''Dengan adanya otonomi daerah, daerah itu kan mendapat uang banyak dari APBN. Dan yang dinamakan banyak tidak banyak biasa, ratusan milyar/trilyun. Nah, sekarang baik pusat maupun daerah, setiap spending APBN itu kan bocor. Jadi, di Jakarta, terutama yang sirkulasi uangnya yang mencapai 60 persen, itu setiap hari muncul berapa multi-milyarder. Juga penguasa-penguasa daerah. Tapi, kalau seluruh kenikmatan itu dinyatakan dalam persen, dari seluruh jumlah penduduk dan itu dicatat betul-betul kesengsaraan, coba gambarannya gimana. Mereka tidak pernah mau melakukan itu," katanya. BLT Omong Kosong Lalu, bagaimana tanggapan Kwik soal Bantuan Langsung Tunai (BLT)? RNW: "Bantuan langsung tunai (BLT) itu menurut Pak Kwik tidak bermanfaat sama sekali?" KKG: "Itu omong kosong yang terbesar. Dan kalau saya bicara seperti ini, bukan sembarangan. Alasannya, data yang dipakai itu adalah data ketika saya masih menjabat menteri Bapenas. Sebagai menteri Bapenas itu juga sekaligus kepala Biro Pusat Statistik. Ketika itu, sudah menjadi persoalan. Saya tahu persis yang dinamakan Susenas itu ngawur. Itulah yang dipakai untuk bantuan langsung tunai. Apa artinya ratusan ribuan itu? Lalu pembagiannya sendiri juga kacau sampai terjadi perkelahian terus-terusan di desa. Orang yang di desa terkenal kaya dapat. Sudahlah, itu omong kosong! Selain itu prinsip BLT itu lucu. Karena profesor-profesor yang hebat-hebat itu mengatakan kenaikan bensin itu untuk menghantam orang kaya. Karena, yang pakai bensin itu orang kaya. Lho, kalau menghantam orang kaya perlu memberi santunan pada orang miskin? Orang miskinnya kan tentunya dengan sendirinya senang. Begitu kan? Landasan pikiran yang paling prinsipil saja tidak cocok". |
| < Prev | Next > |
|---|
















