| Berkaki Empat Tanpa Anus | | Print | |
| Saturday, 23 August 2008 | |||||||
![]() Bayi berkaki empat tanpa anus Menurut Soaduon, semuanya berlangsung normal dan sama sekali tak ada keanehan. Proses mengandung pun berlangsung 9 bulan. Ketika di-USG pada usia tiga bulan kehamilan, saat itu belum terlihat apa-apa. Hanya saja, setelah itu mereka tidak pernah lagi melakukan USG. Soaduon hanya membawa istrinya ke bidan dekat rumah mereka di kawasan Pekapuran, Cimanggis. "Sebelum lahir, bidan bilang enggak bisa ditolong di sini karena letaknya sungsang. Jadi dirujuk ke RS Sentra Medika," ujarnya. Di sinilah si kecil yang belum diberi nama itu lahir sehat dengan berat 2,8 kilogram dan panjang 45 cm. Namun, ternyata ada dua kaki tambahan di bokongnya dan tidak memiliki anus. Soaduon sangat sedih dengan kondisi bayi pertamanya itu meski merasa harus tetap bersyukur jika si kecil lahir dengan kondisi seperti itu. Soaduon telah memberitahukan perihal kondisi buah hatinya kepada istrinya. "Saya sudah bilang ke dia, tapi sambil menguatkan juga dengan firman-firman Tuhan. Dia sedih juga pastinya. Saya bilang, kalau kita bersandar pada Tuhan pasti ada jalan keluar," katanya. Bayi berkaki empat dan tanpa anus yang lahir di RS Sentra Medika Depok beberapa waktu lalu telah menjadi sorotan media. Namun, wujud sang bayi belum dapat terekspos secara terbuka. Pasalnya, tim dokter masih terus memutar otak untuk menyelamatkan hidup "si kecil". Di balik itu semua, Soaduon, sang ayah, saat ini hidup dalam kekhawatiran. Baginya, semua kejadian ini tak terduga. Ketika membawa istrinya memeriksakan kandungan dengan USG pada usia tiga bulan, tidak ada hal yang aneh. Karena itu, Soaduon tidak pernah membawa istrinya lagi memeriksakan kandungan dengan USG. Dia hanya membawa istrinya ke bidan terdekat. Tak diduga, kelahiran anak pertama bagi Soaduon tak terlalu menggembirakan. Soaduon memang bersyukur kepada Tuhan atas kelahiran putranya melalui operasi cesar dengan panjang dan berat yang normal. Hanya saja, wujud bayi yang berkaki empat dan tanpa anus membuatnya sedih dan khawatir. "Bagaimana bisa gitu. Nanti bagaimana dia hidup, bagaimana menjalankan hidupnya," ujar Soaduon yang bingung dan lelah ketika ditemui Kompas.com di Ruang Perinatologi, Gedung CMU RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, Sabtu (23/8). ![]() Namun, bagi Soaduon, dia meihat semangat hidup yang tinggi dari putra pertamanya itu. Tadi malam ketika dioperasi untuk membuat anus buatan, Soaduon mengatakan, dokter menilai si kecil cukup sehat dan pagi ini, pascaoperasi kemotologi, si kecil juga sehat-sehat saja. "Semangat hidupnya tinggi. Makanya semangatnya buat saya semangat nungguin dia di sini," ujar Soaduon lirih. Soaduon sangat berharap para dokter dapat menentukan langkah-langkah yang tepat untuk selanjutnya, baik operasi membuat lubang anus yang normal maupun keputusan tentang dua kaki lainnya. Soaduon yang sedang menganggur saat ini juga sangat bersyukur dengan pembiayaan operasi maupun obat-obatan gratis. Menurut dia, biaya operasi ditanggung direksi RSCM, dan biaya obat-obatan dan rumah sakit gratis karena menggunakan program Jaminan Kesehatan Masyarakat. (kmc/drs)
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Prev | Next > |
|---|
















