| Aktris VCD Syurr itu ... Istriku | | Print | |
| Tuesday, 08 July 2008 | |||||||
|
Dan aku telah mendapatkan impian itu setelah bertemu dengan Riyana (nama samaran) teman KKN atau kuliah kerja nyata di masa akhir perkuliahanku enam tahun lalu. Benarkah Riyana memang ratu impianku? Ternyata tidak! Riyana yang kupersunting tepat pada usia ketiga masa pacaran kami itu, tak lebih dari seorang ratu tega yang tanpa ampun menorehkan luka yang begitu mendalam di dadaku. Bahkan mampu menghempaskan semua mimpi-mimpiku yang setinggi langit, hingga luluhlantak ke bumi. Bahkan, dalam hati kecilku sempat berjanji bahwa apapun akan aku lakukan asalkan dia bahagia. Meski bukan termasuk jajaran top level, namun karir dan penghasilanku di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa, cukup lumayan. Dan itu lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan kami yang hingga menjelang tahun ke dua pun belum dikaruniai momongan. Okelah ... aku mengalah, karena argumentasi yang dia ungkapkan, menurutku memang masuk akal. Apalagi, dia mengungkapkan keinginan 'mulia'nya itu dengan sangat manis, dengan pelukan, kecupan, elusan, dan segalanya membuat naluri laki-lakiku tergerak. Tak punya anak, suami istri sama-sama sibuk mengembangkan karir, komunikasi semakin tidak terjaga. Hanpone sering mati tanpa kutahu dia di mana dan sedang apa. Dia tidak menolak kucumbu, namun sepertinya dia hanya ingin sekedar menjalankan kewajibannya sebagai istri yang tak boleh menolak suaminya, itu saja. Tidak ada gejolak, atau gairah yang meletup-letup seperti masa pacaran kami hingga masa-masa awal perkawinan kami dulu. Aku bagaikan mencumbui sebuah manequin atau 'mayat hidup'? Maaf kalau istilahku dianggap terlalu kasar, tapi kadang saat itu aku memang ingin menumpahkan segala suntuk dan ganjalan di hati. Tanpa kuduga ... dia begitu temperamental! Dia bagaikan anak kelinci manis yang tiba-tiba sangat galak seperti serigala, dia menangis, menjerit, mencakar, membanting apa saja di dekatnya, mengucapkan kata-kata tak kumengerti yang intinya sangat kecewa dan tidak lagi mencintai aku. Klimaksnya, dia memintaku untuk menceraikannya! Bagaikan petir di siang bolong ... aku seperti tersambar dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku benar-benar tidak mengenal perempuan di depanku itu. Aku hanya diam terpaku, hingga dia berlalu dari hadapanku. Lewat kaca jendela depan, masih sempat kulihat Riyana masuk mobil dinas kantor yang biasa menjemputnya dengan membanting pintu. Sopir yang menjemputnya pun sampai melonjak kaget. Setelah sempat menelepon teman-teman dan keluarganya dan hasilnya nihil, barulah aku mencari informasi ke kantornya. Menurut salah seorang staf kantor di tempat Riyana bekerja, Riyana dikirim ke Bandung mewakili perusahaan cabang bersama bosnya untuk urusan di kantor pusat. Aku tak kehabisan akal, aku meminta nomor telepon bos Riyana dengan alasan keadaan saat genting kepada staf itu. Meski alot, akhirnya aku dapatkan juga nomornya. Namun, ketika aku telepon, hanya mesin yang menjawabnya. Aku marah, sakit, kalut tidak karuan! Saking kalutku aku sempat meremas gelas hingga pecah dan tanganku berdarah-darah. Dan puncak kemarahanku adalah ketika ... Anton (bukan nama sebenarnya), sahabatku, tiba-tiba muncul ke rumah dan memperlihatkan 'sesuatu' yang membuat darahku mendidih. Di layar handphone Anton terlihat seorang perempuan tengah bergelut tanpa busana dengan seorang pria setengah baya, begitu hot, penuh gairah, bahkan tanpa segan-segan dia memperlihatkan senyum tanda kenikmatan ...Aku mengenal, bahkan sangat mengenal perempuan di adegan syur berdurasi sekitar lima menit itu. Itu istriku! Itu Riyana! Dan siapa laki-laki bedebah itu?! Soalnya ini menyangkut kredibilitas perusahaan. Laki-laki itu bosnya Riyana. Sekarang dia sudah dibebastugaskan, dipecat dari perusahaan. Begitu juga Riyana. Tentang bagaimana keadaan Riyana sekarang, Walahualam ..."kata temanku itu.
Aku ingin menguburkan dalam-dalam semua tentang Riyana walaupun di sisi lain hatiku, aku masih tetap mengkhawatirkan kondisi perempuan yang dulu sangat aku puja itu. Hingga akhirnya, beberapa minggu setelah kedatangan Anton itu, aku seperti meihat bayangan Riyana datang ke rumah, tampak kusut dan mata-mata yang sembab habis menangis. Anehnya, dia hanya berjongkok di depan pintu dan tak mau masuk rumah hingga aku tersadar bahwa itu hanya lamunanku sore itu. Tapi ternyata itu bukan hanya lamunan tak bermakna ... hari ini, saat aku menuliskan kisah ini, adalah tepat seratus hari setelah Riyana ditemukan tewas bunuh diri karena over dosis di rumah salah seorang temannya, di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Selamat jalan Riyana ... istriku tercinta ... Tuhan pasti akan mengampuni-Mu ...
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Prev | Next > |
|---|




Tak ada yang bisa menebak jalan hidup seseorang. Pun juga aku, sebut saja Haris (bukal nama sebenarnya). Mempunyai istri yang cantik, pintar, dan popular, memang sudah menjadi impianku sejak dulu.











