| Dasar Badrun !! | | Print | |
| Saturday, 07 June 2008 | |||||||
Alkisah di desa Gegojekan, hiduplah pemuda tanggung bernama Badrun, keponakannya Pak Lurah Sudrun. Lantaran masih satu trah sama Pak Lurah Sudrun, Badrun pun didapuk sebagai tokoh pemuda paling kampiun. Sederetan jabatan, dengan mudah disandang si Badrun. Dari Sekretaris RT, Ketua Karang Taruna, Pimpinan Hadrah, sampai Humasnya kampung.
Masih banyak lagi jabatan lain yang membuktikan bahwa Badrun adalah keponakannya Lurah Sudrun ... eh maksud saya pemuda paling kampiun.Dasar Badrun ! Seribu predikat dan jabatan tak membuatnya berpuas diri. Seperti minum air laut, semakin diminum, semakin haus ... Itulah Badrun, sang pemuda kampiun. Mumpung Lurah Sudrun belum pensiun, pundi-pundi di rumah masih ada kesempatan menggunung. Sayangnya, Si Badrun makin lupakan jati diri ... bahkan lomba engklek pun dia ikuti. Hilang sudah kesempatan si Surti yang selama ini digadang-gadang RT 05 bisa membawa pulang medali ... lomba engklek antar kampung! Semua kategori perlombaan, dibabat habis oleh Badrun. Oalah Drun .. Badrun ... Lain Badrun, lain lagi kisah si Panjul. Tak seperti Badrun, Panjul bahkan tak perlu banyak predikat dan jabatan untuk menggemukkan pundi-pundi rumahnya. Satu jabatan, menjadi orang yang berulangkali direkomendasikan kembali untuk mendampingi berbagai macam proyek 'jor-joran' duwit, sudah cukup memuaskan dirinya. Program 'jor-joran' duwit, saat ini memang sedang getol-getolnya dilaksanakan pemerintahan negara Kekunyuk. Konon, program berkesinambungan itu, diproyeksikan untuk pengentasan kemiskinan. Dan tim pendamping, yang tiap bulan menerima gaji hingga lima jutaan itu, bisa leluasa memark up program 'pengentasan kemiskinan' itu. Bahkan, kabarnya, untuk program pembangunan satu jeding alias satu unit wc umum, nilainya bisa mencapai belasan juta rupiah. Itu baru jeding ! Hebatnya, Panjul tak perlu harus bolak-balik masuk kampung keluar kampung untuk membuat program pembangunan kampung yang didampinginya. Dia juga tak perlu repot-repot mencatat atau memberikan laporan atas semua rencana yang telah terlaksana ... tentu saja karena sudah ada si Tuti, anggota tim yang melakoni semua tugas menjemukan itu dengan sepenuh hati. Yang terpenting bagi Panjul, saat program berakhir, kira-kira satu bulan mendatang, namanya sudah masuk kembali dalam tim pendamping. Gaji jutaan bisa dia kantongi lagi hanya cukup dengan melakoni tahapan seleksi basa-basi seperti biasanya. Dan si Tuti yang jungkir balik, menyusun laporan pagi hingga pagi lagi harus gigit jari. Namanya tercoret ... tidak direkom lagi. Seperti yang sudah-sudah, ternyata Panjul adalah anak mentri pembangunannya negara Kekunyuk! Siapa Badrun? Siapa Panjul? Siapa Surti? Siapa Tuti? Siapa saya ... siapa kamu ... Tak terlalu penting. Siapapun yang menjadi bagian dari kisah kecil adalah cermin ... bahwa pencapaian kenikmatan hidup itu tak hanya masalah doa, perjuangan dan keinginan. Namun ada satu hal yang tak mungkin dipungkiri di atas rangkaian doa, cucuran keringat dan keinginan, yakni kekuatan lobby, mengambil setiap kesempatan selama masih bisa, dan yang paling penting adalah ... mengingkari hati nurani !
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| Next > |
|---|







Alkisah di desa Gegojekan, hiduplah pemuda tanggung bernama Badrun, keponakannya Pak Lurah Sudrun. Lantaran masih satu trah sama Pak Lurah Sudrun, Badrun pun didapuk sebagai tokoh pemuda paling kampiun. Sederetan jabatan, dengan mudah disandang si Badrun. Dari Sekretaris RT, Ketua Karang Taruna, Pimpinan Hadrah, sampai Humasnya kampung.
Masih banyak lagi jabatan lain yang membuktikan bahwa Badrun adalah keponakannya Lurah Sudrun ... eh maksud saya pemuda paling kampiun.


