Home arrow Kisah arrow Aku Terjebak Arisan 'Berondong'

Aku Terjebak Arisan 'Berondong' PDF  | Print |  E-mail
Saturday, 07 June 2008

Image Sebut saja namaku Elmo. Aku kelahiran Malang asli. Namun nasib telah membawaku menjadi warga ibu kota Jakarta. Tepatnya sejak sebelas tahun lalu, pasca lulus dari salah satu SMA di kompleks Tugu Kota Malang. Bermodal keren dan pintar, aku berharap bisa menjadi bintang terkenal di kota metropolitan.
Kutepiskan sejenak keinginanku untuk kuliah. Toh menurutku kuliah bisa ditempuh kapan saja, asalkan ada duit. Duit dan popularitas, itulah yang memang ingin kukejar lebih dulu.
Kenyataan memang tak selalu seindah impian. Bukannya menjadi bintang terkenal, aku justru terjebak dalam kehidupan yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Jujur saja, aku terkungkung dalam lingkungan pergaulan kaum homo alias gay. Padahal sungguh, aku ini laki-laki normal. Tapi tak ada pilihan lain. Teman laki-lakiku itu, sebut saja Dyno, yang semula kuanggap tulus menolongku, ternyata punya maksud lain. Laki-laki yang sama-sama dari Malang tapi sudah lebih dulu sukses sebagai pemilik production house (PH) itu mau memberiku tumpangan hidup  lantaran perasaan cintanya padaku.
Duh Gusti ...dia menginginkan aku. Dan aku tak bisa menolak keinginannya yang 'aneh-aneh' lantaran aku merasa berhutang budi padanya. Dan yang pasti, aku sudah tidak punya apa-apa lagi karena uang sakuku telah habis terkuras untuk biaya hidup sebelum ketemu Dyno. Mau minta ebes dan memes, begitu orang Malang menyebut ayah ibunya, gengsi dan malu. Karena yang mereka tahu aku sudah punya kehidupan yang layak di Jakarta.
Ya sudah aku harus mencoba bertahan dan bersabar sambil menunggu waktu yang tepat untuk lepas dari cengkeraman Dyno. Aku sudah jijik dan muak dengan jamahan tangannya, bau keringatnya, dan segalanya yang membuatku sakit. Bukan hanya sakit di badan, tapi juga di jantung. Kadang kurutuki diri sendiri yang lemah.
Hingga suatu hari, dengan merayu salah seorang teman gay Dyno, aku berhasil mendapatkan sejumlah uang untuk modal melarikan diri. Akupun bisa menggunakan uang itu untuk biaya transport, sewa kos, dan biaya hidup sementara, sambil mencoba mencari kerja.
Itulah episode petaka selanjutnya. Singkat cerita, aku melamar  menjadi sopir pribadi yang diiklankan di sebuah koran ibu kota. Tanpa banyak persyaratan, aku diterima dan resmi menjadi sopir pribadi perempuan separo baya sebut saja Nana yang usianya kira-kira sepuluh tahun lebih tua dariku. Ternyata, Nana bukanlah 'nyonya terhormat' seperti yang kuduga. Dia tak lebih dari perempuan alias tante-tante yang kesepian yang sering ditinggal suami berbisnis. Sedangkan anak perempuan satu-satunya kuliah di luar negeri.
Lengkaplah sudah. Senja yang remang-remang, diiringi rintik hujan di ibu kota, di dalam mobil pribadinya, Nana mulai berulah. Sengaja dia singkap roknya dengan pura-pura menggaruk pahanya yang gatal. Tangannya pun mulai nakal meremas apa saja di tubuhku hingga naluri kelakianku tergerak. Entah setan mana yang merasukiku, akupun menepikan kendaraan di tempat yang sepi. Dan seperti yang bisa ditebak, terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi.
Peristiwa itu ternyata tidak membuat Nana kapok, sebaliknya dia makin liar mengejarku. Bahkan dia mulai mengenalkanku kepada teman-temannya yang ternyata juga berkelakuan sama. Jadilah aku 'pangeran' diantara mereka. Aku mulai terbiasa dengan cekakak cekikik para tante. Aku juga mulai jadi 'piala bergilir' diantara mereka . (bersambung) 
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >