Home arrow Catatan Pinggir arrow Sorry, Aku Mau Wassalam

Sorry, Aku Mau Wassalam PDF  | Print |  E-mail
Monday, 21 January 2008
Image
S Gulangsari
Sore ini sewaktu cangkrukan di warung Mbak Nem, seorang penjual gorengan, Aku mendengar pembicaraan serius antara Yu Sri dan Yu Mis, keduanya tukang mlijo (penjual sayur) yang tiap hari nglidheng di perumahan.

Mereka berbicara dalam bahasa Madura, kurang lebih artinya begini. We lha gimana yu, mungkin besok aku enggak bisa jualan lagi.Modalku habis diutang ke sana kemari. Aku enggak bisa kulakan lagi, demikian kata Yu Sri. Yu Mis yang ternyata nasibnya tak kalah ngenes, hanya bisa menelan ludah, pahit. Pasalnya selama ini dia juga menjadi 'bank berjalan' bagi sederetan ibu-ibu yang selalu comot sana-sini terus plas pergi sambil ngomong, utang Yu! Dengan sistem seperti itu, satu bulan seorang anggota 'gugus depan' bisa nunggak sampai Rp 300 ribu, sebuah nilai rupiah yang cukup besar bagi Yus Sri dan Yu Mis.

Repotnya lagi, ketika waktu gajian awal bulan rumah mereka terkunci rapat-rapat. Sorry tidak melayani mlijo, kita sedang shoping ke swalayan. Begitu kira-kira teriakan anjing penjaga rumah yang menyalaki mlijo ketika lewat di depan pintu rumah majikannya. Jadilah Yu Sri dan Yu Mis saling curhat-curhatan, tidak ada solusi. Mbulet kayak susur.

'Penderitaan' Yu Sri dan Yu Mis semakin tak tertahankan sewaktu suami si nyonya penunggak terbanyak ternyata terkapar sakit hampir wassalam. Dari penyakit jantung, ginjal, encok, darah tinggi, diabetes semua diborong. “Sorry Yu, suamiku sakit keras sekali. Mosok sampeyan tega ngomong soal utang,” begitu jawab si Nyonya ketika Yu Sri dan Yu Mis nekad menagih utang.

Yu Sri dan Yu Mis terbungkam, nyatanya toh mereka terdiam, tak bisa menyangkal. Bahkan bayangan besok akan kulakan dengan apa, si kacong mbayar sekolah pakai apa. Bukan hanya duwit, si nyonya besar kini pun suda utang penderitaan, kemiskinan, hati nurani dan harapan. Ketika si suami benar-benar wassalam dan dibawa pulang ke tanah asalnya, jauh dari jangkauan mata. Siapakah yang akan menanggung utang-utang itu? “Kalaupun mau wassalam, pastilah akan sulit dan tidak tenang. Seharusnya utang itu terbayar dulu, barulah wassalam,”keluh Yu Sri, belum Yu Mis, belum lagi mlijo-mlijo lainnya yang tidak sempat curhat di wsarung gorengan Mbak Nem.

S Gulangsari
Malang, Januari '08
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev